DUMAI, cybercrimenetwork.my.id- Kemenangan H. Paisal sebagai Wali Kota Dumai dua periode tidak bisa dilepaskan dari keringat dan darah juang para relawan dan tim pemenangan di akar rumput. Salah satunya adalah P3 atau Pemuda Pemenangan Paisal.
Namun kini, setelah kursi empuk kekuasaan berhasil diduduki, jeritan kekecewaan mulai terdengar dari barisan P3.
Para pemuda yang dulu hujan-panasan, siang-malam mengetuk pintu rumah warga, memasang spanduk, menjaga TPS hingga berdarah-darah berjuang memenangkan H. Paisal, kini merasa dilupakan dan diabaikan.
“Dulu kami dijanjikan akan dirangkul, akan dibangun bersama. Kami berjuang bukan karena uang, tapi karena percaya pada sosok H. Paisal. Tapi setelah beliau duduk di atas, kami P3 seperti tidak dianggap ada. Jangankan diajak diskusi membangun Dumai, disapa saja tidak,” ujar salah satu mantan Koordinator P3 yang enggan disebutkan namanya.
Menurut mereka, pola lama kekuasaan kembali terulang. Saat butuh suara, timses dirangkul. Saat sudah berkuasa, timses ditinggalkan. Yang dekat justru orang-orang baru yang dulu tidak pernah terlihat berjuang.
“Jangan lupakan sejarah, Pak Wali. P3 inilah yang dulu menjadi tameng terdepan ketika Bapak dihantam isu. Kami yang pasang badan. Sekarang kami hanya bisa melihat dari jauh pembangunan yang kami ikut menangkan,” tambahnya dengan nada kecewa.
Kondisi ini menjadi tamparan keras bagi etika politik. Kemenangan tanpa merawat tim adalah kemenangan yang melukai. P3 tidak meminta jabatan atau proyek. Mereka hanya meminta dihargai, didengar, dan tidak dilupakan sebagai bagian dari perjalanan politik H. Paisal.
Hingga rilis ini diterbitkan, upaya konfirmasi kepada Wali Kota Dumai H. Paisal masih terus dilakukan.
Sumber : Perwakilan P3 – Pemuda Pemenangan Paisal Kota Dumai ( tim )
Editor : Redaksi Media 3k3 Group/Indra kitang

